Oleh: Alwi Husein Al Habib, Sekertaris GPII Jawa Tengah
Istilah Jahiliyah kerap disalahpahami sebagai gambaran masyarakat bodoh, tertinggal, dan tidak berpengetahuan. Padahal, masyarakat Arab pra-Islam memiliki kecerdasan tinggi dalam bidang linguistik, astronomi, matematika, serta tradisi sosial yang kompleks. Predikat Jahiliyah lebih tepat dipahami sebagai bentuk karakter sosial yang dibangun tanpa standar kebenaran transenden, sehingga melahirkan fanatisme, arogansi kesukuan, dan sikap menutupi kebenaran (kitmān al-ḥaqq).
Dari kisah Abu Jahal kita memahami bahwa fanatisme kabilah menjadi salah satu faktor utama penolakan terhadap Islam. Namun muncul pertanyaan historis yang lebih menarik: jika Abu Jahal menolak karena persaingan antar-kabilah (Bani Makhzum vs Bani Hasyim), mengapa Abu Lahab, yang justru berasal dari Bani Hasyim, kabilah yang sama dengan Nabi, tetap menolak dan bahkan memusuhi Muhammad SAW?
Abu Lahab, nama aslinya ‘Abd al-‘Uzza bin ‘Abd al-Muththalib, adalah paman kandung Nabi Muhammad SAW. Ia lebih dikenal dengan kunyah “Abu Lahab”, menurut sebagian riwayat karena wajahnya yang tampak kemerahan seperti nyala api ketika marah. Dalam Al-Qur’an, kata lahab sendiri merujuk pada nyala api neraka:
لَا ظَلِيْلٍ وَلَا يُغْنِيْ مِنَ اللَّهَبِ
“Yang tidak dapat melindungi dan tidak pula menolak panas nyala api.” (QS. Al-Mursalat [77]: 31)
Sejarah mencatat bahwa Abu Lahab merupakan salah satu tokoh Quraisy yang paling keras menentang dakwah Nabi. Padahal secara logis ia seharusnya berbangga karena keponakannya memperoleh nubuwwah, sebuah kehormatan yang belum pernah dimiliki keluarga mana pun di Jazirah Arab.
Apa yang membuat permusuhan Abu Lahab begitu ekstrem? Kajian sejarah menunjukkan setidaknya ada tiga faktor utama.
Pertama, Rivalitas Internal dengan Abu Thalib. Meskipun Abu Lahab dan Abu Thalib adalah saudara kandung, hubungan keduanya sejak awal tidak harmonis. Beberapa catatan sejarah menunjukkan perbedaan karakter dan reputasi
Abu Lahab digambarkan sebagai pribadi dengan perilaku yang kurang baik. Riwayat menyebut bahwa ia pernah terlibat pencurian tali emas milik Ka’bah bersama beberapa kawannya. Sementara Abu Thalib dikenal sebagai tokoh terhormat, bijaksana, serta memiliki kedudukan tinggi sebagai pelayan jamaah haji.
Ketika Abdul Muththalib menjelang wafat, ia berwasiat agar salah satu anaknya mengasuh Muhammad kecil. Abu Lahab menawarkan diri, tetapi ditolak keras: “Jauhkan kejahatanmu darinya.”
Penolakan ini menjadi pukulan bagi Abu Lahab, sekaligus menguatkan rasa iri terhadap Abu Thalib, yang akhirnya mendapat mandat tersebut.
Setelah Abdul Muththalib wafat, posisi kepemimpinan Bani Hasyim dipegang oleh Abu Thalib, bukan Abu Lahab. Rivalitas kekuasaan ini memperdalam ketegangan di antara keduanya.
Ketika Abu Thalib menjadi pelindung utama Nabi, Abu Lahab justru mengambil posisi berseberangan. Ia bahkan menjadi satu-satunya elit Quraisy dari Bani Hasyim yang ikut menyuarakan ancaman pembunuhan terhadap Nabi.
Kedua, fanatisme kesukuan dan pengaruh istri (Bani Umayyah). Faktor kedua ini berkaitan dengan pengaruh istrinya, Ummu Jamil binti Harb, saudari Abu Sufyan dari Bani Umayyah.
Ummu Jamil adalah salah satu perempuan Quraisy yang sangat keras menentang Islam. Ia secara aktif memprovokasi Abu Lahab agar membenci Nabi dan Bani Hasyim sendiri.
Karena pernikahan ini, Abu Lahab lebih condong secara emosional dan politik kepada Bani Umayyah, kabilah yang memiliki kompetisi panjang dengan Bani Hasyim. Sentimen ini memperkuat permusuhannya terhadap dakwah Nabi.
Alasan ketiga lebih bersifat geopolitik dan sosiologis. Abu Lahab memahami bahwa menerima Islam berarti menentang struktur keagamaan Arab paganistik, menolak sistem ekonomi yang bergantung pada ritual penyembahan berhala, serta menghadapi permusuhan seluruh kabilah Arab.
Ketakutan ini juga dirasakan para elit Quraisy lain, sebagaimana disinggung dalam Al-Qur’an:
وَقَالُوا إِن نَّتَّبِعِ الْهُدَىٰ مَعَكَ نُتَخَطَّفْ مِنْ أَرْضِنَا
“Jika kami mengikuti petunjuk bersamamu, niscaya kami akan terusir dari negeri kami.”
(QS. Al-Qashash [28]: 57)
Dengan kata lain, Abu Lahab memandang bahwa menerima Islam sama saja dengan memproklamasikan konflik dengan seluruh Jazirah Arab.
Mengetahui Kebenaran, Tetapi Menutupinya
Berdasarkan riwayat-riwayat klasik, para pembesar Quraisy pada dasarnya mengetahui bahwa Muhammad tidak berdusta. Hal ini tampak jelas dalam peristiwa turunnya Surah al-Lahab.
Dalam riwayat Ibnu Abbas, Nabi memanggil kaum Quraisy dan bertanya: “Jika aku kabarkan bahwa musuh akan menyerang kalian pagi atau petang, apakah kalian mempercayaiku?” Mereka menjawab: “Ya, kami mempercayaimu.”
Namun ketika Nabi memperingatkan tentang azab Allah, Abu Lahab justru berkata: “Celaka engkau! Hanya karena ini engkau mengumpulkan kami?”
Ucapan penghinaan itu langsung menjadi sebab turunnya Surah al-Lahab. Ayat tersebut menjadi bukti historis bahwa Abu Lahab bukan menolak karena tidak tahu, melainkan karena menutupi kebenaran (kufr = cover).
Dengan demikian, penolakan Abu Lahab lebih merupakan perpaduan antara ego politik, persaingan internal, fanatisme, dan kepentingan sosial-ekonomi, bukan semata-mata karena ketidaktahuan. Inilah karakteristik yang membuat masyarakat Quraisy, termasuk Abu Lahab, disebut sebagai masyarakat Jahiliyah sebab mengetahui kebenaran, tetapi menutupinya karena kepentingan dan fanatisme.













