Bandung – 15 November 2025. Salah satu sesi yang paling mendapat perhatian dalam Kemah Relawan Pelita Intan Muda Se-Indonesia 2025 adalah materi kebencanaan yang disampaikan langsung oleh tim BPBD Jawa Barat. Dalam suasana hutan pinus yang sejuk di kawasan Pakawa, ratusan peserta mendapatkan pembekalan penting mengenai kesiapsiagaan bencana yang semakin relevan dengan kondisi alam Indonesia.

Materi ini dirancang untuk meningkatkan pemahaman relawan muda terhadap berbagai ancaman bencana, mulai dari gempa bumi, banjir, tanah longsor, hingga cuaca ekstrem yang kerap terjadi di wilayah Jawa Barat. Pemateri dari BPBD Jabar menguraikan pola kerentanan daerah, potensi risiko, serta langkah-langkah mitigasi yang dapat dilakukan oleh masyarakat maupun relawan di lapangan.
Dalam sesi yang berlangsung interaktif tersebut, peserta diajak memahami prinsip dasar penanggulangan bencana, mulai dari “mengenali ancaman, mengurangi risiko, dan meningkatkan kapasitas masyarakat.” Praktik sederhana seperti cara melakukan evakuasi mandiri, menyusun tas siaga bencana, hingga teknik komunikasi kedaruratan menjadi highlight bagi para peserta.
Pemateri BPBD juga menegaskan pentingnya peran pemuda sebagai garda terdepan dalam gerakan kesiapsiagaan. Dengan daya mobilitas dan kepedulian yang tinggi, pemuda menjadi aktor penting dalam penyebaran informasi, edukasi, serta aksi tanggap darurat di lingkungan masing-masing.
“Kesiapsiagaan itu dimulai dari pengetahuan. Semakin banyak pemuda yang paham risiko bencana, semakin cepat pula masyarakat bisa bergerak menyelamatkan diri,” ujar perwakilan BPBD Jawa Barat dalam pemaparan materinya.
Sesi kebencanaan ini ditutup dengan simulasi ringan dan dialog terbuka, di mana peserta dapat bertanya langsung tentang situasi kebencanaan di daerah asal mereka. Banyak peserta mengaku materi ini memberikan perspektif baru dan bekal yang sangat berguna untuk keterlibatan mereka dalam aksi sosial di masa depan.
Dengan adanya pembekalan dari BPBD Jawa Barat, Kemah Relawan Pelita Intan Muda 2025 tidak hanya menjadi ruang belajar, tetapi juga menjadi wadah memperkuat kesiapsiagaan generasi muda untuk menghadapi dinamika bencana yang semakin kompleks.












