[GARUT] – Peringatan Hari Santri Nasional yang jatuh setiap 22 Oktober menjadi momentum refleksi mendalam bagi seluruh elemen bangsa, termasuk para santri yang kini berperan aktif dalam ruang kebijakan publik. Salah satunya adalah Imas Aan Ubudiah, S.Pd.I., Anggota DPR RI Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dari Daerah Pemilihan Jawa Barat XI (Garut, Kabupaten Tasikmalaya, dan Kota Tasikmalaya), yang meniti perjalanan dari dunia pesantren hingga menjadi wakil rakyat di Senayan.

Kisah Imas menjadi bukti nyata bahwa santri masa kini bukan hanya penjaga moral bangsa, tetapi juga pilar penting dalam pembangunan nasional.
Dalam pernyataannya pada momen Hari Santri Nasional, Imas Aan Ubudiah menyampaikan pesan reflektif tentang transformasi peran santri di era modern.
“Hari Santri adalah pengakuan negara atas jihad dan kontribusi para santri dalam merebut serta mempertahankan kemerdekaan. Kami, yang lahir dari rahim pesantren, membawa nilai-nilai keikhlasan, kemandirian, dan ketaatan pada ulama serta negara — langsung ke bilik-bilik kebijakan di Senayan,” ujar Imas penuh semangat.
Sebagai anggota Komisi VI DPR RI, Imas menegaskan bahwa peran santri kini semakin luas, melintasi batas-batas tradisional menuju sektor ekonomi, politik, hingga teknologi.
“Dari mengaji kitab kuning hingga merumuskan kebijakan fiskal dan pengawasan BUMN, santri hari ini adalah agen perubahan yang utuh. Kami tidak hanya menjaga moral bangsa, tetapi juga memastikan keadilan ekonomi dan pemerataan pembangunan sampai ke pelosok desa — sebagaimana janji perjuangan para kiai,” tegasnya.
Pesan Imas Aan Ubudiah untuk Generasi Santri Masa Kini: Jadilah Santri Digital Berakhlak Mulia
Menjawab tantangan zaman yang serba digital dan penuh disrupsi, Imas memberikan tiga pesan utama bagi generasi santri masa kini :
1. Integrasi Ilmu dan Teknologi
“Jadilah santri yang tidak hanya hafal Alfiyah, tetapi juga melek AI (Artificial Intelligence). Kuasai teknologi bukan untuk didominasi, tetapi untuk menjadi sarana dakwah dan syiar Islam yang damai (Rahmatan Lil ‘Alamin). Gunakan gawai bukan hanya untuk bermedia sosial, tapi untuk mengakses ilmu, berinovasi, dan menjangkau dunia.”
2. Kemandirian dan Kewirausahaan
“Semangat kemandirian di pesantren harus diterjemahkan menjadi jiwa wirausaha. Santri harus menjadi motor penggerak ekonomi umat. Jangan menunggu lapangan kerja, tetapi ciptakan lapangan kerja. Pesantren bisa menjadi inkubator bisnis syariah berbasis kearifan lokal.”
3. Benteng Moderasi Beragama
“Di tengah derasnya arus informasi yang memecah belah, santri adalah benteng terakhir moderasi beragama di Indonesia. Jaga tradisi keagamaan yang toleran, inklusif, dan menjunjung persatuan (Hubbul Wathon Minal Iman). Jadilah duta perdamaian yang mampu menyuarakan Islam yang sejuk di panggung nasional maupun global.”
untuk masa depan bangsa:
“Masa depan Indonesia ada di tangan kalian, para santri. Dengan bekal ilmu agama yang kuat dan penguasaan ilmu pengetahuan umum, kalian adalah Santri Mandiri, Indonesia Hebat!”
Imas menegaskan bahwa di era modern, santri harus mampu menjaga tradisi sekaligus merangkul inovasi, sehingga nilai-nilai pesantren tetap hidup dalam setiap langkah pembangunan bangsa.













